Bot telegram VS Bot WhatsApp mana yang lebih realistis?

Sebelum lanjut ke pembahasan, mari kita definisikan terlebih dahulu mengenai konteks bot. Bot itu merupakan sebuah program otomatisasi yang dapat berjalan dengan sendirinya tanpa di kontrol. Bot ada yang otomatis full otomatis, ada juga yang semi otomatis. Bot yang bakalan kita bahas adalah bot semi otomatis, bot ini merupakan program eksternal yang di pasang di sebuah server ( komputer remote ) untuk menjalankan tugas yang berhubungan dengan DATA.
Biasanya kita menggunakan bot seperti ini untuk meng-otomatisasikan kegiatan dan membantu mempermudah pekerjaan. Bot dapat di gunakan untuk mengirimkan OTP maupun notifikasi yang terjadwal. Kita bisa mengontrol bot ini langsung dari aplikasi chatting, bot chatting di populerkan oleh telegram.
Kini banyak orang mencoba untuk membuat bot yang di integrasikan dengan berbagai platform, facebook, twitter, telegram, whatsapp, discord. Semaunya bisa menggunakan bot, auto posting yang di gunakan oleh halaman berita di fb biasanya menggunakan bot auto posting. Tidak di posting secara manual kecuali konten berbasis video, konten berbasis video tidak dapat autoposting.
Semua bot aman asalkan di pakai pada batas yang wajar sesuai denga limitasinya. Beberapa platform memberikan batasn pada sebuha akun dalam hal tindakan tertentu untuk mencegah spaming, serta menjaga beban server mereka. Dalam hal dunia bot, telegram jauh lebih fleksibel di bandingkan platform lain.
Di telegram bot tidak mempunyai batasan dalam hal traffik yang masuk, sebagai asumsi kita bisa melihat bot populer seperti GrupHelpBot dan MariaRosebot di tambahkan ke sejumlah besar group telegram yang mempunyai ratusan ribu anggota. Bisa di bayangkan berapa puluh permintaan perdetik.
Jika kita bandingkan dengan bot WhatsApp, program bot wa yang banyak beredar biasanya di buat menggunakan pustaka Whatsapp versi web yang di modifikasi. Pustaka ini menggunakan puppeter, cara kerjanya dia akan membuat sesi dan menjalankan browser berbasis choromium bertidak seperti client whatsapp web pada umumnya.
Bot ini bisa menerima pesan dalam hitungan detik, bisa lebih dari 1000 pesan masuk ke Nomor kita. Tapi bila kita balas pesan tersebut secara langsung tanpa di beri jedah, nomor yang di pakai bisa langsung ke banned. Wa memang tidak di desain untuk mengirim pesan dalam jumalah banyak di saat bersamaan harus ada jedah waktu beberapa detik agar dapat dapat aman di gunakan.
Beberapa perusahaan menggunakan API Whatsapp official untuk memfasilitasi bisnis mereka, api wa jauh lebih kompatibel untuk hal ini. Namun API tersebut tidak terbuka luas seperti API telegram, biaya nya mahal sekali. Untuk mendaftar API Wa harus mempunyai data legalitas usaha, salah satu cara termudah untuk mendapatkan API Wa melalui platform penyedia API pihak ketiga, namun dengan konsekuensi harga yang lebih tinggi.
Banyak orang mencoba membuat bot topup games berbasis wa, atau bot stiker. Itu hanya permulaan, ketika nomor nya di sebar lalu di gunakan oleh banyak orang maka nomor wa bisa kebanned.
Memang masih bisa kita membuat program berbasis bot whatsapp dengan menerapkan batasan. Membatasi jumlah pesann yang di kirim, tidak boleh mengirimkan pesan secara serentak dalam satu waktu, juga menggunakan sistem phone book untuk mencegah kegiatan lapor melapor.
Whatsapp sangat rawan terhadap pemblokiran, dari level yang sederhana akun kena pembatasan. Selama akun di batasi, pengguna tidak dapat menggunakan whatsap selama selang waktu tertentu.
Saya pernah mengalami kejadian serupa, ketika menggunakan akun WA untuk kebutuhan bisnnis, itu kan banyak yang menghubungi. Saya dapat mengirim pesan ke orang lain yang bukan kontak, sampai pada akhirnya akun wa saya di banned permanent. Nomor ini sudah tidak lagi bisa mengunakan whatsap bla-bla-bla....
Seketika itu saya sudah bergantung 100% menggunakan wa, bahkan nomor tersebut merupakan nomor utama. Karena kejadian itu saya membenci aplikasi yang di operasikan oleh Markzukerberg itu. Menurutku semua aplikasi marzukerberg selalu merugikan pengguna mereka.
Jangankan di wa, di fb komentar sedikit saja di anggap spam. Akun di batasi, saya dari tahun 2013 sudah mengalami kehilangan akun sampai 18 kali. Bisa di bayangkan, setiap akun hanya bermain seperti biasa malah di nonaktifkan, terkena pelanggaran dan sebagainya.
Budaya ini juga di adopsi oleh TIKTOK, tak cuma di whasapp saja. Berpindah ke telegram merupakan pilihan terbaik, meskipun telegram cukup ketat akan tetapi di sana kebebasan cukup di hargai, akun di batasi berdasarkan keputusan yang mutlak bukan karena deteksi sistem yang salah. Misalnya ketika seorang melaporkan orang lain sebagai pelanggaran/spam, di situ pendeteksian bekerja.
Tidak seperti FB/WA/TIKTOK AI pendeteksi konten pelanggaran mereka jauh lebih berbahaya dan merugikan, saya hampir tak habis fikir. Saat ini sudah lama sudah tidak lagi menggunakan layanan tersebut.